Beranda Opini

Pemimpin

Oleh : Cecep Sugiri

Kata pemimpin sangat familiar di negara kita dari anak remaja sampai orang tua. Contohnya lumrah, banyak yang sudah mengetahui bahwa pemimpin kota disebut walikota, pemimpin provinsi disebut gubernur, dan yang lebih familiar lagi pemimpin negara disebut presiden. Banyak pula yang mengetahui definisi bahwa pemimpin adalah orang yang memimpin dalam arti memegang kehendak atas penduduk, daerah, dan semua yang berkaitan dengan yang dipimpinnya. Yang diharapkan dapat memegang amanah dan tangung jawab, dapat mengayomi, melindungi rakyat, dll.

 

Pemimpin dalam islam

 

Islam sebagai rahmat bagi seluruh manusia, telah meletakkan persoalan pemimpin dan kepemimpinan sebagai salah satu persoalan pokok dalam ajarannya. Dalam islam, kriteria pemimpin itu adalah muslim, yang sifatya mengacu kepada sifat yang dimiliki oleh Rasulullah,  yaitu: sidik (benar), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), fathanah (cerdas).

Kenapa tidak boleh memiilih pemimpin di luar islam? karena Allah Swt. berfirman Dalam surat Al-Maidah : 1, berbunyi “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu): sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada oarng-orang yang zalim ”

 

Karena pemimpin harus lebih mementingkan keimanan atas kekafiran, Allah Swt. Berfirman:

“Hai orang2 yang beriman! Janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan. Dan siapa di antara kamu menjadikan mereka menjadi pemimpin, maka mereka itulah orang2 yang zalim” (At Taubah:23)

Baca:  Yuk Gali Potensi Diri

 

Pemimpin islam dalam negara, mencontoh Umar ibn Khathab

 

Pemimpin negara adalah faktor penting dalam kehidupan bernegara. Jika pemimpin negara itu jujur, baik, cerdas dan amanah, niscaya rakyatnya akan makmur. Sebaliknya jika pemimpinnya tidak jujur, korup, serta menzalimi rakyatnya, niscaya rakyatnya akan sengsara.

 

Pada zaman khilafaurasyidin pernah dicontohkan khilafah Sayyidina Umar Radiallahuanhu, seorang yang Cepat menerima kebenaran, zuhud dan adil, karena beliau memang mencontoh Rasulullah Saw. Umar ra. pernah berkata, “Tiada Islam tanpa jamaah, tiada jamaah tanpa kepemimpinan dan tiada kepemimpinan tanpa taat”.

 

Salah satu kisah tentang beliau, di suatu malam Umar ra. sedang berjalan di lorong madinah yaitu Haroh bersama Aslam, beliau memperhatikan terdapat anak–anak seorang ibu yang sedang menagis kelaparan menunggu masaknya makanan yang akan meraka makan. Saking lamanya ibu itu memasak, sampai anak-anak itu mengantuk dan tidur. Ternyata seorang ibu sedang berbohong, ia tidak memasak melainkan hanya air yang memang tertutup untuk menghibur anaknya yang kelaparan tersebut. Melihat kejadian itu, Umar ra. Bertanya, “kenapa engkau berbohong?” Jawab seorang ibu itu, “karena memang kami tidak memiliki persediaan makan untuk kami santap”, tanya Umar ra. “Bagaimana menurutmu tentang khilafah Umar?” dijawabnya: “Umar adalah khilafah yang buruk, sebagaimana membiarkan kami kelaparan seperti ini”. Mendengar jawaban wanita tersebut, beliau langsung bergegas ke gudang tempat pemerintahannya untuk segera mengambil sekantung gandum digotongnya sendiri tanpa naik unta atau tanpa menyuruhnya kepada Aslam. Karena saat Aslam meminta agar dia saja yang menggotongnya, berkata Umar, “apakah engkau sanggup menanggung akan hisabku kelak?”. Setelah itu, Beliau segera memberikannya kepada keluarga si miskin tersebut lalu memasaknya sendiri dan menghidangkannya untuk mereka. “Saya lah Umar”, mendengar kata tersebut ibu itu bergetar. Ternyata beliau lah seorang khilafah.

Baca:  Ketika Manusia Menghadapi Masalah

Prinsip beliau adalah jika rakyat kelaparan beliau dahulu lah akan merasakan itu, jika rakyat kenyang serta makmur beliau yang terakhir yang akan merasakannya. saat kekhalifahannya Umar, Islam berhasil tersebar menembus dinding jazirah arabiyah, bizantium dan persia.

 

Masya Allah

 

Seperti itu lah contoh pemimpin dalam negara, rakyat kelaparan pemimpinlah yang akan merasakan terlebih dahulu, rakyat kenyang dan makmur pemimpinlah yang akan merasakan terakhir.

Karena setiap kebijakan, perlakuan pemimpin terhadap rakyatnya, seperti berlaku adil atau zholim akan mendapatkan balasannya kelak ketika tidak ada naungan selain dari naungan-Nya. sebagaimana besarnya hisab pemimpin itu karena akan mempertanggung jawabkan berhisab atas rakyat-rakyatnya.

 

”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah SWT dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah SWT (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah SWT dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa: 59)

Baca:  Mengenal Lebih Dekat Konsep Mudharabah

 

Kita lihat saat ini pemimpin-pemimpin yang mencalonkan diri, mereka mengatakan siap, mereka bersumpah dll. Semata-mata ucapan tersebut tidak langsung hilang termakan luapan udara, tidak langsung terlupakan oleh masyarakat yang mendengarkan. Tetapi jika ucapan/sumpah tersebut hilang, maka sesungguhnya tidak, melainkan telah dicatat oleh malaikat, dan kebijakannya baik atau pun buruk bagi rakyat, tetap akan ditunggu pertanggung jawabannya di yaumil hisab, pengadilan yang seadil-adilnya, yaitu pengadilan Allah Swt.

 

Semoga Allah meridhoi, menjadikan kita pemimpin-pemimpin seperti apa yang dicontohkan Rasulullah Saw. Dan para Sahabat Radiallahu Anhum. Dan semoga kita istiqomah dan bersungguh-sungguh dalam berusaha menjadi pemimpin tersebut. Tegakkan lah keadilan, berlaku adil diawali dari diri sendiri, karena pada prinsipnya setiap diri adalah pemimpin bagi dirinya sendiri.

 

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau bapak ibu dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, Allah lebih mengetahui kemaslahatan keduanya”. (Qs. An-Nisa; 4: 135)

Wallahu alam.