JAKARTA – Direktur PT Sumber Pangan Sukses (SPS), Siti Saidah yang akrab disapa Ida, membagikan perjalanan panjangnya dalam membangun industri pangan terpadu. Berawal dari industri peternakan ayam, bisnis yang dikembangkannya kini merambah komoditas beras hingga kelapa sawit, dengan visi utama memaksimalkan potensi dan memberdayakan petani lokal.
Ida mengungkapkan, dirinya telah berkecimpung selama 34 tahun di industri peternakan ayam, kemudian menghabiskan 17 tahun di industri pengolahan tepung kelapa yang produknya sekitar 99 persen ditujukan untuk pasar ekspor. Dalam delapan tahun terakhir, ia juga fokus mengembangkan bisnis beras, disusul industri kelapa sawit yang telah berjalan selama enam tahun.
“Kita konsentrasi di industri olahan pangan terpadu. Pengalaman saya 34 tahun di peternakan ayam, kemudian 17 tahun di industri olahan tepung kelapa, dan delapan tahun terakhir kita di beras,” ujar Ida Saidah, Selasa (27/10/2026).
Dalam bisnis beras, Ida menjelaskan bahwa SPS tidak hanya mengandalkan pasokan impor, tetapi juga berupaya membangun kemitraan dengan petani dan penggilingan padi skala kecil atau rice mill. Pada periode 2022–2024, perusahaan sempat mengandalkan impor hingga 99 persen, yang menurut Ida dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah saat itu.
Di sisi lain, SPS tetap menjalin pembinaan dengan petani dan penggilingan padi di sejumlah wilayah, antara lain Karawang, Cikarang, Bekasi, hingga Indramayu.
Menurut Ida, penggilingan padi berskala kecil dengan kapasitas produksi sekitar lima, 10, hingga 20 ton per hari umumnya menghadapi kendala permodalan. Karena itu, SPS berupaya membantu melalui penyediaan gabah, dukungan modal kerja di muka, serta pendampingan teknis untuk meningkatkan kualitas produksi.
“Kita datangkan gabah, lalu kita modal kerja di depan dan semua produksi kita bantu. Kita ajari, ada staf-staf kita yang mengajari mereka,” kata Ida.
Kemitraan SPS juga dikembangkan di sektor kelapa sawit. Perusahaan memperoleh pasokan crude palm oil (CPO) dari sejumlah daerah, di antaranya Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Bangka, Dumai, Medan, Aceh, hingga Lampung. Sementara itu, pasokan gabah berasal dari berbagai sentra produksi, termasuk Madura, Bojonegoro, Kudus, Karawang, Cikarang, dan Indramayu.
Ida menegaskan bahwa pemberdayaan petani tidak cukup dilakukan hanya melalui penyerapan hasil panen, tetapi juga perlu disertai peningkatan kapasitas dan kualitas produksi. Untuk itu, SPS mengadakan pelatihan yang melibatkan kelompok petani dan pengelola penggilingan padi, termasuk dengan mengumpulkan mereka dalam kegiatan pelatihan di hotel di Karawang.
Melalui pendampingan tersebut, perusahaan berharap petani dan pelaku usaha penggilingan padi skala kecil mampu meningkatkan kualitas hasil produksi, memperkuat kapasitas usaha, serta memiliki daya saing yang lebih baik.
“Visi kita bagaimana kita bisa memaksimalkan potensi para petani lokal, yang kedua bagaimana bisa memberdayakan para petani,” tegasnya.
Bagi Ida, pengembangan industri pangan terpadu tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan usaha, tetapi juga pada upaya membangun kemitraan yang berkelanjutan dengan petani lokal. Dengan dukungan permodalan, pendampingan, dan pelatihan, potensi sektor pertanian di berbagai daerah diharapkan dapat dimaksimalkan untuk memperkuat rantai pasok pangan nasional.





