Beranda Sastra & Budaya

RINDU

Foto : idntimes.com

Oleh : Putry Yunita (Siswi Kelas XI, MA Al-haitsam Bogor)

Telah sedalam ini aku berdekap dengan rindu, hingga aku harus bermonolog seorang diri dengan ungkapan cinta yang mampu menguras air mata di balkon rumahku.

Bayangan indah masa lalu mengingatkanku pada sebuah kenangan yang pernah ada. Saat kita bersama dalam peluk cinta yang selalu bahagia bersamamu, Ayah.

Sosokmu yang kini kurindukan, peluk hangatmu yang kini kudambakan dan kasih sayangmu yang kini kuinginkan.

Ayah, aku rindu.

Rindu saat selepas kau pulang bekerja kau selalu tersenyum hangat dihadapanku dengan peluh keringat yang membasahi keningmu. Tanpa lelah, kau mengusap rambutku perlahan dan menanyakan kabarku.

Baca:  Berkahirnya Kehidupan

Saat itu juga letupan-letupan kebahagiaan mulai memercikkan tawa dan senyuman.
Tapi kini, semua seakan sirna dimakan habis oleh waktu. Tak bersisa.

Dan bagiku, balkon adalah tempat paling istimewa untukku merindukan sosok Ayah hebatku. Tak peduli dengan kursi rapuh yang dimakan rayap, atau dinding yang sudah berkelupas dan suasana dingin yang mengigit.

Hanya secangkir coklat panas yang mampu ku putar-putar tanpa suara dan dentingan besi yang beradu saja yang menjadi temanku malam ini. Sambil membayangkan wajah teduhmu disela malam yang dingin.

Baca:  Simfoni Nuansa Angklung Volume 1: Kolaborasi Budaya di Jambu Dua Mall Bogor

Dan kini, jarak mulai membentangkan sayapnya lebar-lebar dan terbang memisahkan raga kita bersama dengan kupu-kupu jiwaku yang ikut terbawa. Lenyap begitu saja, seperti coklat panas ini yang ku putar bebas dan ku sesap habis-habisan. Tak bersisa, kosong.

Tak ada lagi yang mampu ku lakukan selain menguras habis air mataku dan menyentuh wajahmu lewat barisan doa.

Meski jarak memisahkan raga kita di dunia, ku yakin Tuhan akan mempertemukan kita di Surga-Nya. Dan aku percaya akan hal itu, Ayah. Ku harap kita akan cepat bertemu kembali.

Baca:  Optimale manieren om bonussen te gebruiken bij Zumospin

Maafkan aku yang hanya dapat mengungkapkannya saat engkau telah tiada di dunia ini.