
Banyuwangi – Dinamika Dakwah Muhammadiyah di Banyuwangi dengan segala tantangan, rintangan, singgungan, benturan, ancaman, penurunan papan nama, sepanjang tahun 2000 sd 2022 yang dilaporkan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyuwangi, Dr. H. Mukhlis, M.Si.
Kasus di Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Peterongan Desa Kebunrejo Kalibaru, Perebutan Tanah wakaf dan Masjid PRM Peterongan.
Penurunan Papan Nama PCM Glenmore di depan Rumah Ketua PCM Bapak H. Moh Amli, BA. (Alm).
Pemberian tanda silang merah di setiap Pimpinan dan Warga Muhammadiyah Genteng.
Penurunan Papan nama PRM Banjarwaru Banyuwangi oleh Tokoh Masyarakat setempat.
Penolakan Jumatan di Masjid PRM Kaligung Blimbingsari, oleh Masyarakat dengan kekerasan bawa pentungan menjelang Jumatan.
Penolakan pembangunan Pusat Dakwah Muhammadiyah Singojuruh pada saat jelang peletakan Batu pertama yang dilakukan masyarakat sekitar lokasi.
Ancaman pembakaran RSI Fatimah oleh sekelompok orang yang menamakan pasukan berani mati dari Banyuwangi Selatan.
Perangkat Desa bersama Masyarakat Sraten Cluring menolak Pembangunan Masjid Pusdamu Al Furqon PRM Sraten dengan mempermasalahkan IMB dan Muhammadiyah minoritas di Sraten Cluring.
Penolakan Rencana Bangun Pondok Anak kebutuhan khusus (ABK) Milik Muhammadiyah oleh Masyarakat Belakang hotel Aston Banyuwangi, dengan dalih demi kondusifitas warga yang tidak sejalan dengan Dakwah Muhammadiyah.
Penurunan Paksa Papan nama Pusat dakwah Muhammadiyah PRM Tampo Cluring dan PRA Tampo Cluring, TK ABA Tampo Cluring oleh sebagian Warga Mayarakat yang mendapat support dari Kepala Desa Tampo dan Forpimka Cluring, dengan dalih masjid milik umum bukan milik golongan/ Muhammadiyah.
Simak! Video Penurunan Papan Nama Muhammadiyah di Banyuwangi
Dari kasus per kasus tersebut di atas jika ditarik kesimpulan ketemulah akar masalahnya:
^^ Penyerobotan aset wakaf yang tidak tertulis jelas peruntukannya, ingin menguasai aset dan memindahkan kepemilikannya ke Pribadi atau orang lain.
^^ Dakwah Muhammadiyah yang tiada henti, semarak dan mendapat banyak pengikut, pendukung adalah ancaman ketidak nyamanan secara Pengaruh ketokohan lokal, ekonomi dan politik lokal.
^^ Kebencian secara turun temurun baik kultur maupun struktur di lokal masyarakat karena merasa terancam kedudukan ketokohannya, pengaruhnya, sehingga harus melakukan penghadangan dakwah Muhammadiyah secara masif lewat kekuatan Masyarakat lokal, pejabat lokal/ setempat.
^^ Lembaga pendidikan, AUM Kesehatan, Panti Asuhan, Lazismu, PAP, PUSDAMU, TPA,TPQ, Perguruan Tinggi, Pendirian Pusat pusat Keunggulan, SURYA Mart, Aset Aset Muhammadiyah lainya, menjadi kecemburuan Sosial, menimbulkan kedengkian dan ketidaknyamanan bagi mereka yang sudah sejak awal menunjukkan sikap ketidaksenangan.
^^ Kepentingan politik lokal menjadi penyerta dan penumpang kepentingan sesaat memanfaatkan kelompok lain menciptakan kondisi keruh dan memanfaatkan kelompok anti kemapanan untuk cari muka, cari pengaruh dll.
Sumber : Sangpencerah.id




