Beranda News Pendidikan

Dari Saung AEWO Kelurahan Mulyaharja untuk Generasi Bebas Stunting: Ikhtiar Kader dan Ibu Balita di Bogor Lewat Pangan Lokal dan PHBS

BOGOR — Saung AEWO Kelurahan Mulyaharja mendadak riuh oleh gelak tawa dan antusiasme pada Senin, 19 Oktober 2026. Sebanyak 29 ibu balita bersama 7 orang kader posyandu tampak khidmat mengikuti penyuluhan bertajuk “Tumbuh Kembang Optimal: Panduan Pintar MP-ASI & PMT untuk Balita Sehat”. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini digagas oleh tim dosen Program Studi Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi, Sekolah Vokasi, IPB University, di bawah kepemimpinan Ksatriadi Widya Dwinugraha, S.Gz., M.Si.

Ada pemandangan menarik yang mencuri perhatian sepanjang acara berlangsung. Demi menjaga fokus para ibu menyimak materi penting dari narasumber, anak-anak balita yang turut hadir diberikan fasilitas media mewarnai bertema Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menggunakan karakter-karakter yang familier. Hasilnya, anak-anak asyik mewarnai dengan tenang, sementara para ibu bisa menyerap ilmu pencegahan stunting secara optimal.

Baca:  Kerja sama strategis antara Pemuda Kiara Kota Bogor Pendidikan Ibnu Sina, dan LPK Jiritsu Nusantara: Kesempatan Emas bagi Pemuda dan Masyarakat Kota Bogor untuk Magang di Jepang

Gizi Kelas Dunia dari Dapur Sendiri
Materi inti langsung dikupas tuntas oleh Dr. R.A. Hangesti Emi Widyasari, S.Pi., M.Si., selaku narasumber utama. Ia memaparkan bahwa fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) adalah jendela emas, di mana 85% perkembangan otak anak terbentuk pada fase ini. Jika anak mengalami kekurangan gizi pada rentang usia ini, dampaknya bukan sekadar gangguan pertumbuhan fisik (stunting), melainkan juga hambatan kemampuan berpikir secara permanen.

Dalam sesi materinya, Dr. Hangesti juga mematahkan anggapan keliru di tengah masyarakat bahwa makanan bergizi tinggi untuk mencegah stunting harus selalu mahal, seperti daging sapi impor atau ikan salmon. “Mencegah stunting bukan tentang harga, melainkan seberapa pintar kita memadukan bahan pangan lokal dari dapur sendiri,” ungkapnya. Indonesia menyimpan kekayaan pangan lokal melimpah—mulai dari puluhan jenis karbohidrat, ikan, hingga kacang-kacangan. Melalui konsep Sinergi Protein, para peserta dikenalkan pada kombinasi sempurna antara protein hewani serta protein nabati yang terjangkau dan mudah diolah.

Baca:  Mau Sekolah Ala Militer Tapi Hafal Al-Quran, Tahun 2024 Akan Segera Dibuka Sekolah Raja Taruna Islamic Ula Bogor

Mengunci Penyakit dengan Perisai WASH
Penyuluhan ini juga menyoroti satu fakta krusial, makanan bergizi mahal sekalipun akan sia-sia jika anak sering jatuh sakit. Infeksi berulang seperti diare atau cacingan akibat lingkungan dan tangan yang kotor akan membuat seluruh energi dari makanan habis hanya untuk melawan kuman, bukan untuk tumbuh kembang anak.
Oleh karena itu, pendekatan WASH (Water, Sanitation, Hygiene) diperkenalkan sebagai perisai utama pertahanan keluarga. Melalui 3 Misi Utama PHBS—yakni menjaga kebersihan diri serta rutin memotong kuku anak, memastikan alat makan dan dapur tersimpan rapi di tempat tertutup, serta menjadikan orang tua sebagai teladan hidup bersih—rantai penularan penyakit dapat diputus secara tuntas dari rumah.

Baca:  Pihak SMPN 12 Kota Bogor Kecolongan, Anak Didiknya Terjaring Bawa Sajam Mau Tawuran

Ruang Diskusi Hangat dan Solutif
Suasana kian cair ketika memasuki sesi tanya jawab. Para ibu balita tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berkonsultasi seputar problematika pengasuhan sehari-hari. Berbagai pertanyaan mengalir, mulai dari cara menghadapi anak yang mengalami alergi makanan, anak yang suka makan dengan cara diemut, hingga tantangan era digital saat anak enggan makan jika tidak disambil menonton gawai. Tim narasumber memberikan solusi aplikatif dengan menekankan pentingnya responsive feeding—pemberian makan secara sabar, penuh kasih sayang, tanpa paksaan.

Melalui kolaborasi nyata antara peran aktif ibu di rumah dalam menyajikan menu berbasis pangan lokal dan menjaga kebersihan, serta ketelatenan para kader posyandu dalam memantau grafik tumbuh kembang anak secara berkala melalui Buku KIA, ikhtiar bersama melahirkan generasi yang tinggi, cerdas, dan bebas stunting kini semakin kokoh berakar di tengah masyarakat.