Beranda Opini

PEMUDA TERBAIK

Oleh : Sekar Awif Rhamadanti (Siswi kelas XII IPA MA Al-haitsam Bogor)

Pemuda adalah harapan masa depan umat. Berkualitas pemuda hari ini, penuh ketaatan, kepribadian yang kuat, maka cerahlah masa depan suatu kaum. Begitupun sebaliknya, buruk kondisi kaum muda hari ini, lemahnya kepribadian, maka suramlah nasib bangsa tersebut di kemudian hari.

Pemuda juga memiliki andil besar dalam sejarah bangsa, maju mundurnya tergantung pada kondisi pemudanya. Jika pemudanya memiliki jiwa yang maju, jiwa besar, dan jiwa kepemimpinan, maka bangsa itu akan maju dan mampu memimpin peradaban dunia. Sebaliknya, jika pemudanya menghabiskan waktu nya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, apalagi bertentangan dengan nilai-nilai agama, maka masa depan bangsa itu akan suram.

Sejarah masa emas islam mencatat banyak pemuda yang harum namanya. Sejak generasi sahabat hingga akhir sejarah emasnya yang sudah terkenal, diantaranya penaklukan Konstantinopel yang merupakan ibukota Romawi Timur (Byzantium). Kota itu ditaklukan oleh seorang pemuda berumur 23 tahun, dia adalah Muhammad Al-Fatih. Dan pada zaman Rasullah dan Sahabat, mereka adalah Usamah bin Zaid (18 tahun) yang ditunjuk menjadi Jendral termuda pada masanya, Sa’ad bin Abi Waqqash (17 tahun) yang melindungi Rasullah di perang Uhud, Selain itu ada pemimpin muda Spanyol yaitu Abdurrahman An Nashir yang diangkat menjadi Khalifah saat berumur 21 tahun. Pada masanya Andalusia mencapai puncaknya. Saat itu kebangkitan pada ilmu sains dan masih banyak lagi Kejayaan Islam yang banyak digerakan oleh barisan kaum muda.

Baca:  Akhlak Terhadap Informasi

Sejarah emas yang diukir oleh para pemuda diatas begitu menakjubkan. Hal ini justru bertolak belakang dengan kondisi kebanyakan pemuda zaman sekarang. Para pemuda cenderung melakukan aktivitas yang sia-sia, jauh dari kata produktif bahkan sering berbuat onar dan masalah.
Sepatutnya umat hari ini merasa prihatin melihat kondisi para remaja dan pemuda hari ini. Banyak anak muda mengalami krisis moral dan akhlak. Lebih senang melakukan kekerasan dan bahkan menyebarkan dan menularkannya diantara kebanyakan remaja di Tanah Air. Data Polda Jabar misalnya, 50% pelaku kekerasan adalah pelajar sebut saja tawuran, bullyying, bahkan hingga begal motor, perampoka.  Semua masih didominasi oleh para remaja. Kekerasan itu bukan saja dilakukan kepada sesama remaja, tetapi juga kepada orang tua bahkan guru. Beberapa kali netizen dikejutkan dengan viralnya video siswa melakukan tindakan tidak terpuji kepada guru mereka. Dari mulai mem-bully guru, merokok di kelas, menantang berkelahi sampai memaki-maki guru. Lalu tanggung jawab siapa ini semua ?
Pasalnya, banyak pihak yang terlibat dalam pendidikan remaja. Pertama, orangtua adalah pihak pertama dalam pendidikan anak. Namun faktanya sekarang banyak orang tua hari ini kurang menanamkan keimanan dan adab-adab islam kepada anak-anaknya. Orang tua lebih menekankan prestasi akademik belajar ketimbang pembentukan kepribadian dan budi pekerti. Terbukti banyak remaja yang terjebak pegaulan bebas, yang akhirnya menjurus pada aborsi, prostitusi, bahkan hingga hilangnya nyawa.
Kedua, negara wajib bertanggung jawab menghadirkan pendidikan yang baik bagi rakyatnya. Dengan menyelenggarakan pendidikan berbasis nilai spiritual, dan dikuatkan dengan intelektual yang produktif bagi kehidupan keluarga dan bermasyarakat.
Ketiga, pemahaman dari pihak sekolah untuk tidak hanya memperhatikan prestasi akademik belaka. Melainkan peduli juga pada pendidikan jiwa dan mental bagi anak didiknya. Agar tumbuh menjadi anak yang sehat secara akhlak, adab, dan juga budi pekerti. Sekolah juga harus menaruh perhatian besar dalam upaya perlindungan pada moral remaja dengan norma dan nilai-nilai etika dalam bentuk peraturan yang mendidik.

Baca:  Sexy Killers & Demokrasi Tak Bermutu Kita

Bila keadaan ini yang terus terjadi, bagaimana remaja muslim di Tanah Air bisa menjadi generasi terbaik ?

Jadilah Pemuda Terbaik !
Para remaja dan pemuda muslim sudah saatnya sadar bahwa di pundak meraka kelak akan diletakan amanah memimpin umat dan membangun negeri. Masa muda bukanlah masa untuk menceburkan diri dari suasana hedonisme, bersenang-senang tanpa batas halal dan haram, sambil berpikir bahwa umur masih panjang. Masa muda hanya sekali dan waktu tak bisa diputar kembali. Bila masa muda habis untuk memuaskan hawa nafsu, kelak akan datang penyesalan pada hari tua. Bahkan tak sedikit manusia yang telah rusak jiwa dan raganya pada usia muda. Para pemuda yang bisa mengendalikan dirinya dari hawa nafsu mendapatkan pujian dari Allah SWT. Para pemuda semaca inilah yang akan Allah SWT beri kedudukan istimewa kelak pada hari akhir. Sabda Nabi saw : “Ada tujuh golongan manusia yang akan Allah naungi dalam naungannya kecuali hanya naungan-Nya:…. Pemuda yang tumbuh dalam suasana ibadah ( ketaatan ) kepada Tuhannya.” (HR. Al- Bukhari).

Baca:  Kacamata dari Bunda

Yang harus dilakukan para pemuda, pertama, hujamkan keimanan bahwa islam adalah agama yang paripurna; mengatur urusan dunia dan akhirat, bukan sekedar spiritual ibadah, namun juga akhlak, norma dan seluruh nilai kehidupan umat dan masyarakat. Tak ada agama serta sistem kehidupan yang terbaik kecuali hanya Islam. Kedua, kaji Islam sebagai ideologi yang menjadi pandangan hidup sehari-hari, bukan sekedar ilmu pengetahuan yang ditulsi di lembar ujian. Mereka wajib terikat dengan nilai dan norma Islam, pemuda Muslim akan menilai baik-buruk berdasarkan ajaran Islam.

Oleh karena itu, kita harus menanamkan karakter kepemimpinan Islam kepada para pemuda. Dengan adanya pendidikan agama sejak dini kepada remaja semoga bisa menjadi bekal dalam kehidupan bermasyarakat dan negara. Agar kelak lahir pemuda yang berakhlak mulia, berkepribadian, berkarakter, dan kelak siap untuk menjadi pemimpin yang membawa umat, masyarakat, dan bangsa ini menjadi lebih maju dan bermartabat. Sebagaimana Umar bin khattab berkata : “Pemuda hari ini, pemimpin masa depan”. Dan Soekarno pun berani berkata “berikan aku sepuluh pemuda aku akan goncangkan dunia”.