Masa krisis merupakan masa yang tidak dapat dihindari dalam menjalankan sebuah usaha. Saat ini banyak sekali pengusaha yang mengalami masa krisis dikarenakan adanya Covid-19. Bahkan tidak sedikit pengusaha yang gulung tikar pada saat pandemic ini. Namun seiring berjalannya waktu, masa krisis pandemic Covid-19 ini harus dihadapi dan juga ditangani agar usaha tetap terus berjalan. Pada masa krisis inilah perusahaan akan diuji kemampuannya dalam problem solving.
Ketika pegusaha dapat menghadapi masa krisis, maka dapat dikatakan bahwa bisnisnya adalah bisnis yang tangguh. Karena bisnis yang tangguh merupakan bisnis yang ketika menghadapi rintangan, maka bisa bangkit dan menjadi lebih kuat dalam bertindak mengambil keputusan. Salah satu cara dalam mempertahankan bisnis pada saat krisis adalah dengan melakukan inovasi pada produk.
Berikut terdapat tips dan trik melakukan inovasi untuk menghadapi situasi krisis menurut Dr. Insrawan Nugroho :
1. Ikuti perubahan perilaku pelanggan
Pelanggan adalah manusia, yang mana pada saat krisis atau pandemic sepeti saat ini pasti kebutuhannya menjadi berubah. Seperti yang terjadi di industry otomotif, pelanggan yang biasanya datang ke bengkel untuk service motor kini tidak lagi datang ke bengkel, hal ini membuat industry otomatif mengalami penurunan yang drastis. Dapat diketahui bahwa sebenarnya kebutuhan pelanggan untuk service motor itu masih ada, tetapi terdapat kendala dari pelanggan yang mana pada saat pandemic ini terbatas untuk keluar rumah. Maka dari itu inisiatif dari industry otomatif adalah melakukan home service. Yang mana nantinya Teknisi yang datang ke rumah pelanggan untuk melakukan service kendaraan bermotornya. Hal ini merupakan keputusan yang sangat bagus disaat masa krisis pandemic ini.
2. Identifikasi peluang baru
Perlnya untuk mengidentifikasi peluang baru yang terbuka, dimana ada ketika satu pintu tertutup maka pintu lain akan terbuka. Kita harus menemukan pintu yang terbuka itu. Contohnya penjualan mobil baru dimasa pandemic turun drastis. Namun setelah adanya survey bahwa penjualan mobil bekas dimasa krisis pandemic covid ternyata naik. Akhirnya salah sastu pengusaha membuat aplikasi digital agar pembeli dapat dengan mudah memilih mobil yang dicari. Pesaing lain pun belum ada yang melakukan hal seperti ini. Hal ini menjadi peluang yang bagus.
3. Sesuaikan portofolio produk
Sesuaikan portofolio produk dengan kebutuhan pelanggan pada saat krisis. Missal pada saat pandemic orang-orang itu belanjanya dibatasi, maka mereka harus punya tempat untuk menyimpan barang belanjaannya, sehingga produk-produk seperti kulkas sangat dibutuhi dan jika kebutuhan peelanggan ini dipenuhi maka penjualannya akan naik.
4. Optimalkan teknologi digital
Kita perlu mengoptimalkan penggunaan teknologi digital apalagi di tengah pandemic yang mana susah untuk bertemu orang secara langsung. Maka dari itu harus dapat memanfaatkan media sosial, agar kegiatan yang dibutuhkan pelanggan bisa dilakukan hanya dengan melalui smartphone.
5. Eksperimentasi channel baru
Kita harus eksperimentasi penjualan yang tidak biasa. Harus melakukan eksperimentasi dengan cara lain yang dapat memudahkan pelanggan.
6. Sesuaikan paket penawaran
Kita harus menyesuaikan paket harga dengan situasi dari pelanggan. contoh marquee, perusahaan yang menyediakan office place yang biasanya menyewakan permeter. Dimasa pandemic atau krisis orang tidak mau ambil investasi jangka panjang, maka mereka mengubah paket harganya perorang dan bisa fleksibel tiap bulan. Ternyata flkesibilatas ini lah yang dapat menjawab permasalahan dari customer.
7. Modifikasi produk atau layanan
Kita perlu memodifikasi produk atau layanan. Misalnya seperti membuat paket promo sesuai kebutuhan pelanggan.
8. Ubah cara kerja tim
Kita harus mengubah tim kita dalam cara bekerja dan pola kerja tim. Misalnya pada saat pandemic ini semua tim yang bekerja di kantor menjadi work form home. Dan ketika ada rapat dengan rekan bisnis yang tidak memungkinkan untuk bertemu maka bisa dilakukan melalui online meeting.
9. Main dipasar yang hidup
Kita harus main dipasar yang masih hidup. Karena banyak dari kita yang marketnya mati. Carilah market yang baru yang masih hidup agar bisnis yang dijalankan pun tetap bisa berjalan.
Disusun oleh :
Fabela Tri Wardani
Mahasiswi STEI SEBI, Prodi Manajemen Bisnis Syariah
Sebagai Penerima Beasiswa Cendikia Baznas





